7 Orang Disambar Petir, 1 Tewas

Ilustrasi-sambaran-petirPeristiwa –Nuriman (25), buruh tani asal Kampung Pulo, Desa Pulo, Kecamatan Ciruas, tewas tersambar petir ketika berteduh di sebuah gubuk di area persawahan di Kampung Pulo, Sabtu (4/4) sekitar pukul 13.30. Sementara itu, satu orang luka berat, enam orang luka ringan, dan lima orang lain yang berada di gubuk selamat.

Dilansir Radar Banten (Grup PM Online), Senin (6/4), Nuriman dan buruh tani yang lain sedang panen di area persawahan di Kampung Pulo. Sekitar pukul 13.00, hujan mengguyur wilayah Ciruas dan sekitarnya.

Nuriman dan buruh tani lain yang berjumlah 13 orang berteduh di gubuk di tengah sawah. Hujan yang disertai petir berujung musibah. Tiba-tiba, petir menyambar gubuk tempat buruh tani berteduh.

Nuriman mengalami luka gosong di bagian punggung dan tewas di lokasi kejadian, sedangkan Ardi mengalami luka bakar serius sehingga harus dibawa ke Puskesmas Ciruas. Enam orang yang mengalami luka ringan sempat mendapat perawatan di puskesmas, tetapi atas rekomendasi tim medis mereka diizinkan pulang.

Sekretaris Desa Pulo, Suhanda mengatakan, enam orang warga Pulo yang mengalami luka ringan yaitu Mihad, Apri, Sapari, Asih, Fatmah, dan Mutiah. Mereka hanya terkena percikan petir dan mengalami luka bakar sedikit. Lima orang buruh tani yang selamat dari musibah tersebut yaitu Nurdin, Ulis, Mami, Abad, dan Arjen.

“Korban meninggal sudah dimakamkan. Dia baru menikah seminggu lalu,” kata Suhanda, Minggu (5/4).

Dikatakannya, saat kejadian hujan disertai petir mengguyur wilayah Kecamatan Ciruas. Ketika itu, Suhanda mendengar suara petir yang cukup kencang. Warga yang selamat kemudian membawa korban ke permukiman penduduk. Setelah itu, mereka dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

“Sekarang, Ardi masih dirawat di klinik, sedangkan rekan-rekannya hanya mendapatkan perawatan di rumah,” jelasnya.

Suhanda berharap, pemerintah memberikan bantuan terhadap korban yang tersambar petir. Apalagi, dia merupakan warga kurang mampu. Bantuan dari Dinas Sosial (Dinsos) akan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

“Kita sudah laporkan kejadian tersebut kepada Camat Ciruas. Kemungkinan besar, Senin (6/4), kita akan laporkan ke Dinsos Serang,” paparnya.

Camat Ciruas Nanang Supriyatna mengatakan, sudah menerima laporan dari pemerintah desa terkait musibah yang menimpa warga Kampung Pulo. Dia ikut prihatin dengan musibah tersebut dan mengimbau kepada petani dan buruh tani untuk tidak beraktivitas di sawah ketika hujan turun. Ia khawatir, kejadian serupa terjadi lagi. Apalagi, sekarang memasuki musim pancaroba.

“Saya berharap, musibah tersebut tidak terjadi lagi,” ungkap mantan Camat Kibin dan Bandung tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


7 Orang Disambar Petir, 1 Tewas

Ilustrasi-sambaran-petirPeristiwa –Nuriman (25), buruh tani asal Kampung Pulo, Desa Pulo, Kecamatan Ciruas, tewas tersambar petir ketika berteduh di sebuah gubuk di area persawahan di Kampung Pulo, Sabtu (4/4) sekitar pukul 13.30. Sementara itu, satu orang luka berat, enam orang luka ringan, dan lima orang lain yang berada di gubuk selamat.

Dilansir Radar Banten (Grup PM Online), Senin (6/4), Nuriman dan buruh tani yang lain sedang panen di area persawahan di Kampung Pulo. Sekitar pukul 13.00, hujan mengguyur wilayah Ciruas dan sekitarnya.

Nuriman dan buruh tani lain yang berjumlah 13 orang berteduh di gubuk di tengah sawah. Hujan yang disertai petir berujung musibah. Tiba-tiba, petir menyambar gubuk tempat buruh tani berteduh.

Nuriman mengalami luka gosong di bagian punggung dan tewas di lokasi kejadian, sedangkan Ardi mengalami luka bakar serius sehingga harus dibawa ke Puskesmas Ciruas. Enam orang yang mengalami luka ringan sempat mendapat perawatan di puskesmas, tetapi atas rekomendasi tim medis mereka diizinkan pulang.

Sekretaris Desa Pulo, Suhanda mengatakan, enam orang warga Pulo yang mengalami luka ringan yaitu Mihad, Apri, Sapari, Asih, Fatmah, dan Mutiah. Mereka hanya terkena percikan petir dan mengalami luka bakar sedikit. Lima orang buruh tani yang selamat dari musibah tersebut yaitu Nurdin, Ulis, Mami, Abad, dan Arjen.

“Korban meninggal sudah dimakamkan. Dia baru menikah seminggu lalu,” kata Suhanda, Minggu (5/4).

Dikatakannya, saat kejadian hujan disertai petir mengguyur wilayah Kecamatan Ciruas. Ketika itu, Suhanda mendengar suara petir yang cukup kencang. Warga yang selamat kemudian membawa korban ke permukiman penduduk. Setelah itu, mereka dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

“Sekarang, Ardi masih dirawat di klinik, sedangkan rekan-rekannya hanya mendapatkan perawatan di rumah,” jelasnya.

Suhanda berharap, pemerintah memberikan bantuan terhadap korban yang tersambar petir. Apalagi, dia merupakan warga kurang mampu. Bantuan dari Dinas Sosial (Dinsos) akan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

“Kita sudah laporkan kejadian tersebut kepada Camat Ciruas. Kemungkinan besar, Senin (6/4), kita akan laporkan ke Dinsos Serang,” paparnya.

Camat Ciruas Nanang Supriyatna mengatakan, sudah menerima laporan dari pemerintah desa terkait musibah yang menimpa warga Kampung Pulo. Dia ikut prihatin dengan musibah tersebut dan mengimbau kepada petani dan buruh tani untuk tidak beraktivitas di sawah ketika hujan turun. Ia khawatir, kejadian serupa terjadi lagi. Apalagi, sekarang memasuki musim pancaroba.

“Saya berharap, musibah tersebut tidak terjadi lagi,” ungkap mantan Camat Kibin dan Bandung tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*