Misteri Final PD 1998, Apa yang Terjadi Pada Ronaldo?

misteri-final-pd-1998-apa-yang-terjadi-pada-ronaldo-o99ztwcMvC

InfoBola -Siapa sangka sebuah final Piala Dunia 1998 yang penuh drama dan momen tersebut berakhir di meja hijau? Begitulah kira-kira yang terjadi usai Brasil dikalahkan oleh tuan rumah Prancis. Drama dan tanda tanya sudah terjadi sejak pertandingan belum dimulai.

Dalam final bersejarah tersebut, Tim Ayam Jantan sukses menaklukkan kandidat kuat juara, Brasil yang dibintangi oleh Ronaldo Luiz Nazario dan Roberto Carlos dengan skor 3-0. Ternyata kekalahan tersebut menyeret Il Maestro –julukan Ronaldo– hingga pihak pemerintah Brasil melakukan penyelidikan.

Memang aneh, beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, Ronaldo dikabarkan mengalami sakit aneh dan harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan namanya hilang dari daftar pemain yang dibawa oleh pelatih Mario Zagallo. Namun, menjelang kick-off di Stade de France, pemain bernomor punggung sembilan itu muncul kembali. Ada apa gerangan?

Dalam pertandingan tersebut, Ronaldo yang saat itu masih berusia 21 tahun bermain tak seperti biasanya. Tak ada permainan lincah, pergerakan cerdik, dan giringan bola khasnya yang mengantarkan Tim Samba ke partai puncak. Pada akhirnya, sebuah gugatan di pengadilan Rio de Janeiro menyerang Ronaldo.

Dewan Medis setempat juga mengeluarkan aksi yang menyudutkan tim medis Brasil saat itu. Walau pada akhirnya mereka dibebaskan. Selain itu, sebuah penyelidikan dilakukan oleh Anggota Kongres Brasil, atas apa yang sebenarnya terjadi pada laga yang berlangsung pada 12 Juli 1998 itu.

Skor akhir jelas menjadi milik Zinedine ‘Zizou’ Zidane cs. Tetapi apa yang terjadi di sekitar Stade de France tak ada yang mengetahui secara rinci. Zizou mencetak dua gol dan satu gol lainya diciptakan oleh Emanuel Petit. Itu adalah kali pertama Les Bleus menjadi kampiun sepakbola sepanjang sejarah.

Namun setelah suka-cita kemenangan Prancis, menurut Daily Mail, Kamis (26/3/2015), seluruh skuad Brasil melakukan makan siang di Chateau de Grande Romaine, sebuah daerah di pinggiran Paris. Setelahnya, mereka kembali ke penginapan dan saat itu Ronaldo mencurahkan isi hatinya kepada Roberto Carlos, Edmundo, dan Doriva.

Dalam penjelasan bek sayap fenomenal itu, Ronaldo sangat terpukul dengan beban serta harapan seluruh masyarakat Brasil kepadanya. Bahkan ia mengungkapkan saat itu Il Maestro tak bisa berhenti menangis.

Sementara itu di hadapan dewan kongres Brasil, Edmundo menjelaskan peristiwa yang membuatnya begitu terkejut saat melihat reaksi Ronaldo. Mulutnya mengeluarkan busa dengan kaki bergetar hebat. Carlos saat itu sangat panik dan berteriak meminta tolong.

“Saat saya melihatnya, saya putus asa. Kejadian itu benar-benar mencengangkan,” ungkit Edmundo.

Bahkan menurutnya, mantan striker Real Madrid dan Barcelona itu bergetar tergeletak dengan kedua tangannya berada di mulut yang mengeluarkan busa, seperti halnya yang diketemukan saat orang mengalami kejang-kejang.

Beruntung saat itu, bek Cesar Sampaio melakukan pertolongan pertama dengan meletakkan tangannya di mulut Ronaldo. Tak lama kemudian, sang bintang tertidur dan menurut Edmundo tim dokter memutuskan untuk berpura-pura tak terjadi apa-apa saat Ronaldo terbangun.

Saat ia bangun, Ronaldo seakan tak tahu apa yang telah terjadi ia meminum secangkir teh. Namun menurut Leonardo, rekan setimnya itu telah diberitahu oleh tim dokter yang kemudian membawa ke Lilas clinic di Paris saat rekan-rekannya menjajal rumput Stade de France.

Meski pada akhirnya Ronaldo kembali bermain, keputusan Zagallo memasukkannya ke tim menuai protes. Bahkan publik Brasil menilai ada unsur konspirasi pada final pesta sepakbola sedunia itu. Namun pelatih yang juga legenda sepakbola Negeri Samba itu melakukan pembelaan atas keputusannya.

Empat tahun berselang, mimpi Ronaldo mempersembahkan Piala Dunia kepada Brasil terwujud di Jepang. Bahkan Il Maestro hingga kini dikukuhkan sebagai salah satu striker terhebat sepanjang sejarang. Tetapi kejanggalan yang terjadi beberapa jam sebelum final Piala Dunia 1998 itu masih jadi pertanyaan besar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*