RS Bidadari: “Minta Tanggung Jawab ke RS Bina Kasih, Jangan ke Kami”

31-3-FOTO-BAMBANG-Bocah-salah-obat-Copy1Peristiwa – Kelumpuhan Da Afnita (10) tak hanya membuat Firman (35) dan Julia (28) sedih. Keceriaan buah hati mereka sebelumnya, berubah jadi duka. “Kami sudah adukan masalah ini ke DPRD Kota Binjai. Selain itu, kami juga akan berencana menempuh jalur hukum serta melaporkan ke Menteri Kesehatan,” terang Firman, Rabu (1/4) siang.
“Kami tidak berharap lebih, kami hanya ingin anak kami sembuh dan kembali seperti semula. Cuma itu yang kami mau, karena dia merupakan generasi penerus bangsa ini dan masa depan kami,” timpal warga Jalan Tengku Umar Lingkungan 6, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara itu.
“Kami gak mau menyalahkan siapapun bang, kami hanya ingin anak kami sembuh, itu aja kok,” lirih pria yang berprofesi sebagai buruh pabrik ini. Pria yang berpenghasilan pas-pasan ini juga sedikit kembali menceritakan kisah pahit yang menimpa anaknya.

“Awalnya dia sehat dan baik kok,” terang dia. Tepat hari Minggu 14 Desember tahun kemarin, Dea mengalami gejala demam. “Kalau tidak salah anakku sempat mengikuti ujian, sebelum mengaku sakit demam,” tutur dia.

Kuatir dengan demam yang diderita putrinya yang bercita-cita jadi perawat itu, mereka membawa sang buah hati ke RS Bidadari Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kebunlada, Kecamatan Binjai Utara. Disini, perawat lalu melarikanya ke ruang inap dan dipasang selang infus ke tubuhnya.

Sayang infus ternyata tidak membantu. Juga setelah suntikan obat dimasukkan melalui infus. Malah, badan putrinya dingin akan tetapi keluar keringat yang sangat deras. Selain itu, kulitnya juga mengeluarkan bintik-bintik kemerahan.

“Kami gak tahu obat apa yang dikasih, soalnya obatnya melalui suntikan saja ke infus. Meski badannya dingin, tapi dia (Dea-red) mengaku kepanasan,” ungkap dia. Hingga akhirnya, dr Vivia selaku dokter yang merawat anaknya keesokan hari (Senin-red) datang melihat kondisi anaknya. Disini, sang dokter sempat mengatakan kepada perawat jika ada kesalahan yang dilakukan. “Itu salah infusnya, cepat perbaiki,” tutur Firman menirukan perkataan sang dokter.

Tidak berselang lama, Senin 15 Desember, siang jelang sore anaknya dirujuk ke RS Bina Kasih. Dengan alasan, jika peralatan di rumah sakit yang beralamat di Kecamatan Sunggal, memiliki peralatan lengkap. “Itu alasan mereka dan saat diantar ke sana, anakku masih bisa bicara dan bergerak meski tubuhnya lemas,” seru pasutri ini.

Baru masuk ke rumah sakit Bina Kasih, keluarga tidak bisa menjenguk lagi sang putri karena langsung dimasukan ke ruangan ICU. Disini, anaknya sempat dirawat selama 1,5 bulan tanpa sadarkan diri (koma-red). Kondisinya memburuk dan Dea dirujuk RSUP H Adam Malik Medan.
Di sana, kondisi Dea sadar namun tidak bisa bergerak dan berbicara. Dia hanya bisa menjerit jika membutuhkan sesuatu. Kondisi ini membuat keluarga semakin bingung karena keterbatasan biaya.

Hingga akhirnya Dea, harus menjalani rawat jalan di RSU Djoelham Binjai. “Gimana naasib anak kami ini, kenapa kata dua rumah sakit hanya sakit typus, bisa jadi seperti ini,” terang pasutri ini berurai air mata.

Terpisah, Kepala RS Bidadari Binjai, dr Firman, membantah pihaknya salah melakukan diagnosa dan pemberian obat. Pasalnya, pasien atas nama Dea, hanya dirawat satu hari saja. “Kayak mana bisa dibilang salah diagnosa. Dea saja cuman kami rawat satu hari saja di rumah sakit kami,” terangnya.

Diakuinya, dr Vivia ada menegur cara memasukan infus kepada perawat. Namun bukan kesalahan memasukan obat. “Kondisi anak ini, masuk dengan berat 20 kg seusianya. Jadi di sini, dokter menyarankan menggunakan infus yang sesuai. Tapi bukan salah memasukan obat seperti apa yang dilontarkan orangtuanya,” terang Firman, sembari menunjukan rekam medik Dea.

Dirinya juga mengakui, sudah melakukan klarifikasi ke DPRD Binjai dan Dinas Kesehatan Binjai dan IDI. Namun setelah melakukan pertemuan sekitar tanggal 16 bulan 3 kemarin. Semua sudah dijelaskan dan pihak manajemen tidak ada dipermasalahkan dalam masalah ini dan tidak disalahkan. Kemungkinan saja kesalahan bukan pada pihak RS Bidadari.

“Permasalahan ini sudah lama dan saya sudah memberi klarifikasi. Seharusnya orangtua tersebut meminta pertanggung jawaban ke RS Bina Kasih, karena lama dirawat di sana anaknya, bukan ke kami (RS Bidadari-red),” terangnya.

Ketika kembali disinggung keterangan dr Vivi yang sempat mengatakan, adanya kesalahan infus untuk Dea, Firman menjelaskan, permasalahan tersebut karena infus ditangan Dea macet dan tidak berjalan. “Kalau yang itu dipindahkan karena infusnya tidak berjalan. Yang diganti itu letak infusnya saja, bukan infusnya yang diganti dan itu biasa karena pasien yang dirawat itu kan anak-anak,” jelasnya.

Terpisah, saat kru koran ini menyambangi RS Bina Kasih, tak juga bertemu dengan pejabwat berwenang. Supiati selaku bagian informasi enggan memberikan keterangan dan mengatakan bahwa Robert selaku penanggung jawab rumah sakit sedang berada di luar.
“Maaf bang, saya gak berhak memberikan komentar dan keterangan apa pun. Kalau bang Robertnya sedang keluar pak. Nanti hubungi aja nomor rumah sakit ini,” ucap Supiati sembari memberikan nomor rumah sakit.
Sementara, saat wartawan mencoba menghubungi nomor yang diberikan tersebut, tak dapat dihubungi. Dan ketika kru koran ini kembali lagi ke RS Bina Kasih, Robert pun tak juga berada ditempat. “Masih di luar pak. Sabar ya pak,” ujar pegawai informasi kepada wartawan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*